SEORANG BIDAN MENJADI PENDIDIK AL QUR'AN

Orangtua Hilyah Qonita, Juara 1 Hafizh Indonesia RCTI 2013


Sejak menikah, saya, Nuroniyah Manaf  dan suami, Muslim, sepakat menjadikan pendidikan al-Qur’an sebagai landasan utama sebelum anak-anak belajar ilmu-ilmu yang lain. Kini kami dikaruniai tiga orang anak, Aufa Alfa Zhillah (9), Hilyah Qonita (5),  dan  Muhammad Al Fatih (11 bulan). Kami tinggal di wilayah Kebon Jeruk Jakarta Barat.
Aktifitas saya sehari-hari adalah sebagai guru ngaji di rumah.  Bersama  suami, kami mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak yang berada di lingkungan sekitar rumah kami. Sebelum mengajar, saya pernah menjadi bidan di RS Islam Jakarta Pusat. Saat mengandung Aufa tujuh bulan saya berhenti menjadi bidan, karena ingin fokus mendidik anak-anak secara intensif. Aktifitas suami, selain menjadi guru di Sekolah Dasar Islam(SDI), juga menjadi guru ngaji, termasuk di antaranya menjadi guru Tahsin di Nurul Hikmah pimpinan Ust.Muzzammil.
Anak pertama,Aufa Al Hamdulillah sekarang sudah menyetor hafalan 13 juz, menjadi santri Nurul Hikmah sejak kelas I SD. Sedangkan untuk Hilyah, kami membuat program agar ia bisa menghafal al-Qur’an di rumah, dengan mengikuti metode-metode menghafal yang ada di pesantren Nurul Hikmah.. Alhamdulillah hafalan Hilyah sekarang sudah lima juz, yaitu juz 30 -  26.  Sekarang Hilyah sedang menghafal juz 1. Hilyah juga mempunyai prestasi sebagai juara 1 MHQ juz 30 Islamic Book Fair 2012, juara 1 MHQ juz 29 dan 30  di LTQ As-Syifa, juara 2 MHQ juz 30 di Majelis Syarif Hidayatullah, Juara 1 MHQ juz 29 dan 30 di Kafila Islamic International school se-DKI Jakarta dan Jawa Barat, dan yang terbaru adalah sebagai juara 1 hafizh Indonesia RCTI 2013.
Capaian ini tidak instan, program menghafal al-Qur’an sudah saya mulai sejak saya hamil, yaitu dengan memperbanyak mengkhatamkan al-Qur’an. Khataman qur’an ini saya lakukan untuk merangsang tumbuh kembang otak janin sejak dari dalam kandungan. Saya juga selalu berkomunikasi dengan si kecil di kandungan saat tilawah. Ucapan, misalnya, “De, Ibu mau tilawah surat Yusuf, nih sekarang, dengarkan ya!”,  sambil saya mengelus perut, itu selalu saya lakukan.
Ketika lahir, kebiasaan mendengarkan bacaan al-Qur’an tetap kami lanjutkan. Ayahnya biasanya memilih bacaan murattal Imam Misyari Rasyid karena tidak terlalu cepat dan lebih syahdu. Hampir setiap hari saya  mentalaqqikan surat-surat pendek di berbagai aktivitas, misalnya pada saat menyusui,  makan, dan  ganti  popok. Di usia 6 bulan, saya  mulai memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah sambil bermain dengan alat peraga yang kami buat sendiri, dengan menggunting kertas origami yang berwarna-warni sesuai bentuk huruf-huruf hijaiyah, lalu kami tempel di lembaran kardus yang besar. Ketika  mereka sudah bisa berucap, huruf-huruf  hijaiyah yang selalu saya perkenalkan, ternyata mereka hafal. Setelah itu saya menggunakan metode iqro untuk mengajari mereka membaca al-Qur’an.  Alhamdulillah, Aufa di usia 4 tahun, dan Hilyah di usia 3 tahun sudah bisa membaca al-Qur’an. Saya pun terus melatih kelancaran tilawah  Qur’an mereka, sambil memberikan hafalan surat-surat di juz 30.
 Hilyah mulai setor hafalan ketika usianya tiga tahun. Biasanya ia menyetor hafalan sehabis Ashar dan muraja’ah usai shalat subuh. Sedangkan ba’da Maghrib bersama para santri, Hilyah mengaji di rumah dengan saya  dan suami.
             Saya bersyukur, proses menghafal Hilyah sampai sekarang tidak banyak kendala. Kuncinya, tekad yang kuat dan disiplin dari orang tua. Kami juga sadar bahwa lingkungan ikut mempengaruhi, karena itu saya dan suami memilih lingkungan tempat tinggal yang tenang, dan membatasi kegiatan menonton televisi. Dalam hal ini, orang tua tentu harus menjadi teladan bagi anak-anak dengan tidak terlalu banyak menonton televisi, dan memperbanyak interaksi dengan al-Qur’an.

1 Response to "SEORANG BIDAN MENJADI PENDIDIK AL QUR'AN"

Keluarga NH

Tanya Jawab